Buku "Baru" dan Majalah yang Mati Muda

Img_0584

Sudah lama rupanya saya tak posting di blog tercinta. Hanya satu alasan saya: Malas. Malas, ya malas. Tak ada lagi sebab lain saya tak menulis di blog sepanjang ini. Saya benar benar sedang tak ingin mencatatkan sesuatu apapun, padahal banyak sekali bahan yang sudah saya rancang. Dan, ya itu tadi. Hanya mengendap sesekali di kepala lantas tertimpa waktu yang lalu lupa entah kemana.

Belakangan ini saya sedang keranjingan membeli buku. Bukan buku baru, tetapi buku buku lama yang tentu saja belum dibaca. Karena saya tinggal di kota kecil yang tak ada toko bukunya kecuali toko buku pelajaran dan alat tulis kantor, maka saya memanfaatkan jalur dunia maya: facebook. Ya , lewat jalur inilah saya berteman dengan sejumlah pedagang buku loakan dengan harga yang lumayan terjangkau, bisa dinego, sekaligus tak mesti membayar dengan segera. Tunggu beberapa saat hingga kita mendapatkan rizki untuk membeli buku yang diinginkan.

Hasilnya saya bisa mendapatkan buku buku yang sudah lama ingin dibaca dan tak bisa mendapatkan buku itu karena sudah tak diterbitkan lagi, edisi lama, dan tak mungkin tersedia di jaringan toko buku besar yang ada di kota kota metropolitan. Hmm, buku buku lama memang tercium agak bau apek, tapi itulah nikmatnya. Dibawah ini, sebagian buku koleksi yang saya kumpulkan belakangan ini. Belum semua dibaca. Mencicil saja. Tak buru buru kok.

Oh, ya. Di samping beli buku lama, saya juga sedang mengkoleksi sebuah majalah berlogo kelinci dari Amerika. Tapi bukan luar, melainkan yang terbit perdana di Indonesia April 2006. Sayang, karena tekanan, majalah yang pernah mencatatkan diri dalam khazanah pers Indonesia itu mati muda, hanya sepuluh edisi. Saya baru punya delapan. Tinggal dua lagi. Bagi saya, gambar gambar dalam majalah itu biasa saja, mungkin karena namanya saja sehingga menjadi kontroversi. Selebihnya, tulisan tulisan beraroma jurnalisme sastrawi dengan kualitas bermutu sungguh sayang untuk dilewatkan. Suatu kali, akan saya lepas koleksi itu dengan harga yang aduhai.

Mendidik Manusia, Bukan Mesin Uang

Voice of Amerika (VOA) seksi siaran Bahasa Indonesia tanggal 5 Januari 2012 melansir salah satu berita yang saya simpulkan cukup menyedihkan untuk dunia pendidikan di Amerika. Judulnya menghentak, “Studi Humaniora Semakin Tidak Populer di Amerika.” Laporannya ditulis oleh Faiza Elmasry.

Mungkin karena hidup yang semakin pragmatis dan mengedepankan hasil ketimbang proses itulah studi studi humaniora yang “kering” tak lagi menjanjikan dan cocok untuk masuk kotak. Perlahan, anggarannya pun terancam dipotong. Dalam berita yang diturunkan VOA itu, dengan sinis, Gubernur Florida pada bulan Okotober 2011 mengatakan bahwa uang pajak Negara bagian Florida harus dialokasikan untuk memperkuat studi sains dan teknologi tinggi, bukannya "mendidik lebih banyak orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan dalam antropologi."

Read the rest of this post »

Melestarikan Air, Menjaga Bumi

Tak bisa diragukan, air merupakan elemen vital dalam kehidupan alam semesta. Tak hanya manusia yang menulis peradaban dan butuh air, bahkan hewan dan tumbuhan meniscayakan air sebagai pelangsung keberadaan generasi mereka. Air dengan demikian telah menjadi saksi bisu bagaimana sebuah rantai kehidupan terus berlanjut dan menjadi bagian darinya. Bahkan, seorang filsuf Yunani, bernama Thales dengan percaya diri mengatakan bahwa awal kehidupan dunia bermula dari air.

Torehan tinta emas sejarah telah mencatat dengan setebal tebalnya bahwa peradaban kuno di muka bumi selalu berasal dari peradaban sungai, yang itu berarti air. Sungai menjadi urat nadi peradaban. Ia kemudian menjadi peletak dasar kemajuan manusia dalam mengarungi kemodernan zaman.

Begitulah kemudian sejarah menulis. Terskripta peradaban lembah sungai Shindu dan Gangga di India, tersiar kabar adanya peradaban lembah sungai Hwang Ho di Tiongkok; daratan Cina sekarang. Peradaban Mesopotamia ditunjang oleh lembah sungai Eufrat dan Tigris, dan last but not least, sungai Nil yang menjadi hadiah bagi rakyat Mesir, sejak dulu hingga sekarang. Artefaknya masih bisa dilihat, hanya saja mungkin airnya tak sejernih dan tak semantap dulu.

Manusia sejatinya telah berutang banyak kepada air. Saya tak bisa membayangkan kalau manusia bisa melanjutkan perjalanan tanpa kontribusi air. Ah, apakah manusia memang selalu lupa pada sejarahnya sendiri? Kini, air sedang sekarat. Kalau itu terlalu kejam bolehlah diganti dengan krisis. Ya, krisis air. Atas nama pembangunan dan kemajuan dari sebuah bangsa dengan ditandai munculnya gedung gedung pencakar langit baru, pabrik pabrik baru yang merupakan anak kandung industri, dan lain lain telah “menewaskan” tanah dan hutan yang merupakan penopang air.

Rachmat Fajar Lubis mencatat dalam tulisannya yang dimuat di www.geotek.lipi.go.id bahwa, “Dalam acara Forum Air Dunia II (World Water Forum) di Den Haag, Maret 2000, disebutkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang akan mengalami krisis air pada 2025. Penyebabnya antara lain kelemahan dalam pengelolaan air, seperti pemakaian air yang tidak efisien. Laju kebutuhan akan sumber daya air dan potensi ketersediaannya sangat pincang dan semakin menekan kemampuan alam dalam menyediakan air. Sumberdaya air secara kuantitatif akan semakin terbatas dan secara kualitatif akan semakin menurun. Sumberdaya air merupakan sumberdaya yang terbarui namun demikian kadang ketersediaannya tidak selalu sesuai dengan waktu, ruang, jumlah dan mutu yang dibutuhkan. Pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi telah meningkatkan kebutuhan air baik jumlahnya maupun kualitasnya. Sebagai contoh : Keperluan air di daerah perkotaan khususnya, semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan ekonomi. Air khususnya di daerah perkotaan sekarang sudah merupakan komoditi yang “langka” dan relatif mahal.

Situs berita www.news.okezone.com tertanggal 10 September 2011 juga melaporkan bahwa, “Menurut kajian Bappenas (2005), untuk wilayah di luar Jabodetabek ditemukan bahwa sekitar 77 persen kabupaten/kota di Jawa  telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun.”

Dua fakta ilmiah di atas menunjukkan dengan benderang bahwa krisis air bukanlah gosip belaka dan menjadi angin lalu saja. Ia betul betul sedang mengancam hidup manusia jika tak becus menangani dan melakukan konservasi terhadapnya.

Belum cukup? Saya kasih fakta lagi yang menurut saya mencengangkan dan membikin miris. Kurang lebih 100 juta rakyat Indonesia sedang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, dan 70 persen penduduknya diperkirakan memakai air tercemar. Belum lagi data yang diungkap Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Indonesia-saya membaca di majalah Madina Februari 2008-yang menyebutkan bahwa air bersih kian langka. Sebanyak 76,2% dari 52 sungai di Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi tercemar berat oleh limbah organik, dan 11 sungai utama tercemar berat oleh unsur amonium. Lalu, mayoritas sungai yang berada di kota pemukiman padat penduduk seperti di Pulau Jawa cenderung sudah tercemar bakteri colli yang bisa menyebabkan diare.

Apa pasal? Andreas Harsono pernah menulis dalam Dari Thames ke Ciliwung, “Kualitas air menurun tajam akibat industrialisasi besar  besaran, urbanisasi, dan ketiadaan aturan main soal polusi air.” Oh, sungguh tragis. Air yang vital, nyatanya sedang memberi ancaman laten atas manusia yang hidup di sekitarnya. Inilah mungkin akibat kerakusan manusia yang terus menerus mengekploitasi alam dan air tanpa menyiapkan efek samping yang akan dihadapi.

Dengan cerdas, band retro Naif dalam salah satu liriknya yang berjudul Dia adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia yang Ada di Seluruh Dunia pernah menulis ihwal manusia yang tak pernah peduli dengan alamnya, Manusia berkembang menurut perkembangan jaman yang ada//Tengoklah kiri dan kanan sudah banyak gedung yang tinggi menjulang//Pohon-pohon yang dulu hijau kini telah berubah menjadi batu//Kurasa manusia kini tak pernah peduli lagi dengan alamnya//Dia... Adalah pusaka sejuta umat manusia yang ada di seluruh dunia//Langit biru cerah tak mungkin lagi terlihat bersih dan ceria//Pelangi yang berwarna warni//Warnanya semakin tak menentu//Bunga bunga yang indah tak pernah semerbak lagi seperti dulu//Udara segar yang dulu ada kini tak pernah kurasakan lagi.”

Saya kira, krisis air sekarang bukan lagi laten melainkan telah mewujud secara manifes. Efeknya sudah terasa. Akibatnya sudah terbukti. Banjir tak hanya menerjang desa nun jauh di sana, juga kota kota besar yang dilimpahi banyak insinyur yang tinggal didalamnya.  Hutan hutan telah banyak ditebang, tinggal menunggu air bah datang menjemput, lalu mengalir dan melewati apa saja yang ada. Manusia kemudian menyebutnya sebagai bencana. Jadi tunggu apalagi, konservasi atas air adalah jawaban untuk itu semua.

Konservasi dalam arti kamus berarti: pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan; pengawetan; pelestarian. Mungkin hampir berdekatan maknanya dengan meruwat. Ya, apa yang semestinya dilakukan setelah mendengar ancaman krisis air adalah melestarikan air, meruwat banyu, yang itu berarti sama dengan menjaga buana. Memelihara bumi.

Apakah harus dilakukan dengan hal hal yang besar dalam soal konservasi. Bisa saja jika itu dilakukan secara massal, serentak, konsisten, dan penuh kesadaran. Bukan hanya sesaat, seremoni belaka, dan apalagi menaikan citra. Jika belum mampu berbuat hal hal yang besar, tak ada salahnya tokh jika kita memulainya dengan sesuatu yang kecil kecil dulu dan mungkin dianggap sepele.

Menghemat air. Mungkin bisa dibilang: Ah gampang, hanya menghemat kan? Secara teori bisa saja dianggap enteng tapi prakteknya akan sulit jika tak dimulai dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Berhemat akan air bisa dilakukan apabila mandi, jika ada shower lebih baik dipakai ketimbang memakai gayung yang sedikit banyak airnya bisa terbuang. Mengisi air bak hendaklah diperhatikan jangan sampai meluber karena ketiduran dan akhirnya membuang air secara  percuma. Mencuci motor dan mobil tak perlulah selang air dibuka terus menerus ketika sedang menggosok badan motor atau mobil, pakailah ember atau yang sejenisnya untuk menampung air.

Membuang sampah pada tempat sampah, bukan ke sungai yang bisa menyebabkan air mampet, butek, dan tentu saja tercemar. Ketika melawat ke Jakarta beberapa hari lalu, saya melihat sungai di Jakarta yang full sampah. Airnya mampet, tak mengalir, bisa membuat banjir, dan pastinya tak bisa diminum bukan? Izinkan saya bernostalgia ke masa lalu. Saya iri dengan cara pemerintah kolonial Belanda mengelola Ciliwung di masa lalu. Melihat dokumentasi masa lalunya di buku buku sejarah, Ciliwung masa lalu aduhai bersihnya. Noni noni Belanda bisa lalu lalang bermain dengan sampan. Tak takut kena kotor karenanya air jernih. Apa warnanya sekarang? Hitam pekat. Ih..takut.

Menanam pohon. Tak usahlah dulu menanam yang besar besar di lereng lereng gunung. Mulailah di tempat tinggal sendiri. Jika musim hujan datang minimal tak kebanjiran di rumah sendiri. Oh, ya. Di salah satu kabupaten di Jawa Barat ada lho peraturan yang menyebut jika ada pasangan yang hendak menikah syaratnya adalah mesti menanam pohon. Saya kira ini bagus. Ah, saya jadi ingat pepatah bahwa bumi ini bukan warisan orang tua kita melainkan titipian anak cucu kita nanti.

Mudah mudahan tak kepanjangan. Salam lestari. Semoga air menjadi ramah.

Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI: Awasi Anggaran Pendidikan

Frederich Nietschze, “filsuf gila” dari tanah Bavaria Jerman suatu kali pernah berujar, “Seorang manusia hendaknya punya harapan, karena dengan harapan-lah manusia bisa bertahan.” Harapan atau mimpi adalah kunci meraih masa depan yang masih misterius. Mengutip grup band Nidji, “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya.”

Ia bisa saja gemilang, atau sebaliknya menjadi kelam lagi suram. Gemilang karena berlelah lelah, dan kelam nan suram karena berleha leha. Dan tak ada salahnya pula bukan jika saya menanam harapan atau bermimpi menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI). Siapa tahu, kelak di kemudian hari saya benar benar menjadi anggota DPD yang menurut saya terhormat itu. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun mendatang. Hmmm, “Seandainya Saya Menjadi Anggota DPD RI,” kelihatannya menarik juga.

Read the rest of this post »

Ironi dari Beranda Indonesia

Cover_buku_meraba_indonesia

Farid Gaban, seorang wartawan senior yang telah kenyang makan asam garam dunia jurnalistik. Pernah bergabung di Tempo, Editor, dan Harian Republika, sebelum akhirnya memutuskan menjadi jurnalis lepas pada 2004. Pengalaman jurnalistiknya antara lain meliput perang Bosnia, runtuhnya tembok Berlin, dan peristiwa peristiwa penting lainnya.

Dan Ahmad Yunus, seorang wartawan muda berbakat yang pernah bekerja untuk portal berita detik.com Bandung, sempat bergabung dengan Yayasan Pantau, dan kemudian memutuskan menjadi wartawan lepas sambil tetap menulis dan menjadi kontributor. Keduanya-entah hebat atau “nekad”-memutuskan melakukan ekspedisi mengelilingi Indonesia Zamrud Khatulistiwa.

Read the rest of this post »

Kuliah Salim di Paman Sam

Cover_buku_pesan_pesan_islam
 

 

Haji Agus Salim. Sepotong nama yang mungkin lamat lamat terdengar dalam kisah perjuangan menegakkan sebuah negara bernama Indonesia. Namanya mungkin tak semasyhur Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Syahrir. Namun jasa dan perannya tak bisa dianggap enteng. Salim beberapa kali pernah menjabat menteri luar negeri. Ia kerap mewakili Indonesia dalam panggung panggung politik internasional.

Boleh dikata, Haji Agus Salim-lah yang punya jasa besar mengenalkan Indonesia pada dunia luar pasca berkumandang proklamasi kemerdekaan. Atas lobi Salim pula akhirnya Mesir mengakui Indonesia sebagai negara merdeka, sebuah pengakuan internasional pertama-salah satu syarat berdirinya sebuah negara baru. Maka tak salah jika Bung Karno menjulukinya sebagai The Grand Old Man. Orang tua hebat yang menjadi mentor tokoh tokoh pergerakan Islam semisal Natsir, Roem, dan lain lain.

Read the rest of this post »

Sertifikasi dan Spiderman

Ada hal menarik dan patut menjadi bahan renungan bersama yang dilontarkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sewaktu memberikan sambutan pada peringatan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-66 pada akhir November 2011 yang lalu, dan tentu saja catatan dari presiden ini hendaknya menjadi pemicu dan pemacu agar postur profesionalitas guru ke depan akan lebih baik.

Salah satunya adalah ketika presiden memberikan kritik membangun atas kinerja sebagian korps guru yang masih belum memuaskan, yang itu artinya belum mencapai standar rata rata yang diharapkan. Padahal, sebagian dari mereka telah ikut merasakan manis dan ranumnya program yang dikenal dengan sertifikasi, sebuah ikhtiar cukup serius yang dilakukan oleh pemerintah untuk menaikan derajat profesi guru berkenaan dengan maslahat tambahan finansial. Setelah beberapa waktu yang silam, profesi guru hanya dininabobokan dengan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa.”

Read the rest of this post »

Melangit Lalu Membumi

Sabtu, 3 Desember 2011. Voice of America (VOA) seksi siaran Indonesia melansir  berita yang membetot perhatian saya. Tajuknya ditulis“Para Pengguna Media Sosial Bertemu di Acara On-Off 2011.” Sebuah informasi berguna dan menarik untuk dicermati di tengah tengah riuh rendahnya berita berita berbau politik dan turunannya yang kadang kala tak jelas ujung pangkalnya. Ya, semacam jeda agar otak tak jenuh dari timbunan problematika berat berat yang disuguhkan di layar kaca.

Bermula di tahun 2007 yang pada awalnya disebut “Pesta Blogger.” Seiring dengan menjamurnya media sosial yang tumbuh pasca 2007, maka pada tahun ini diubah menjadi ON-OFF 2011. Agar, para pesertanya tak sebatas mereka yang menyebut dirinya sebagai blogger, melainkan juga mencakup pengguna media sosial yang tumbuh secara signifikan beberapa tahun belakangan ini. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari seperempat milyar memang menjadi lahan subur munculnya pengguna pengguna baru di ranah social media.

Read the rest of this post »

Lima Buku Pilihan Saya di Tahun 2011

Saya menulis catatan ini persis di hari pertama bulan terakhir, Desember 2011. Warsa yang sebentar lagi pamit, berganti dengan tahun yang baru dan tentu saja dengan harapan harapan baru yang lebih baik. Yang bolong bolong diperbaiki. Yang sudah bagus ditingkatkan. Target target ditetapkan dan lantas dilambungkan agar kualitas hidup semakin mendaki menuju-meminjam jargon 1960an-progresif revolusioner.

Hidup memang mesti terus berjalan kendati banyak aral melintang di sana sini. Sebab kata Nietsczhe, seorang filsuf dari tanah Bavaria, pernah berujar bahwa dengan menanam harapan-lah manusia bisa bertahan hidup. Adanya harapan memberi motivasi kukuh nan tangguh bahwa hidup harus terus diperjuangkan, dicari celah celahnya sembari tak lupa bahwa dunia bukanlah terminal akhir dari sebuah episode panjang bernama kehidupan.

Nun katanya menurut kitab suci, bahwa ada hidup setelah buana ini tamat. Kehidupan yang teramat kekal dengan Tuhan semesta alam sebagai pemilik-Nya. Maka, pergantian tahun mesti dimaknai sebagai medium melihat kembali kedirian dan kemanusiaan kita di tahun tahun yang telah berlalu. Meminjam istilah yang hampir klise adalah sebagai sarana introspeksi diri apa yang telah dilakukan. Masih bengkok bengkok-kah, sudah luru tapi masih bentur bentur ke sana ke mari dan lain sebagainya. Bukannya malah menghabiskan pergantian tahun dengan sesuatu yang tak jelas.

Read the rest of this post »

Pembajakan dan Culas atas Kreativitas

Jangan merasa aneh dan juga heran menyaksikan perilaku sebagian penghuni negeri ini. Hampir di setiap sesuatu yang baru, bagus, dan laris maka dengan cepat-seolah berlomba dengan waktu-di pasaran muncullah tiruannya alias bajakannya. Sebut saja barangnya. Buku, t-shirt, gadget, software, musik, dan lain sebagainya. Boleh dikata, Indonesia adalah “surga” bagi para pembajak. Sebuah negara yang empuk dan nyaman bagi para pencoleng dan perampok kreativitas.

Oke, oke..saya tak akan membahas seluruh item yang dibajak. Rasanya tak cukup waktu guna mengkajinya dalam satu, dua, atau tiga halaman yang singkat ini. Belum lagi pembahasannya yang mungkin kurang mendalam alias dangkal. Maafkanlah sahaya ini yang hanya mempunyai secuil pengetahuan terhadapnya.

Fokus bahasan akan menukik pada pembajakan yang menimpa industri musik di Indonesia, dan tentu saja akan berimbas pada nasib musisi Indonesia yang sebagian mungkin bisa berjaya, dan sebagian lagi kembang kempis. Hidup segan mati tak mau, akibat ulah para pembajak pembajak nista. Hukum yang layu plus aparat yang tak bersungguh sungguh. Klop.

Read the rest of this post »

1 page of 7 | Next >>